Fakta Menarik Denjaka, Pasukan Elite TNI AL


Detesemen Jala Mangkara atau disingkat Denjaka adalah pasukan khusus anti-teror yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL). Pasukan elite ini terdiri atas gabungan personel Komando Pasukan Katak dan Batalion Intai Amfibi.

Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No. Isn. 01/pIV/1984 pada 13 November 1984. Tugas utamanya yaitu membina kemampuan anti-teror, anti-sabotase, serta berbagai operasi klandestin lainnya. Selain itu kamu juga bisa membaca biodata jang wonyoung dan manfaat buah kakao.

Pasukan yang bermarkas di Jalan Gunung Sahari Nomor 67 Jakarta Pusat ini diyakini sebagai pasukan elite yang mematikan. Pasalnya, dilansir dari Selain itu, menjadi prajurit Denjaka diharuskan memiliki kemampuan terbaik dalam perang, baik di darat, laut, dan udara. Berikut lima fakta menarik seputar Denjaka yang dihimpun Tempo:

Berawal dari 70 Prajurit

Seperti diketahui. Denjaka merupakan pengembangan  dari Pansusla yang dibentuk oleh KSAL pada 1982. Pada tahap awal, direktur 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi dan komando pasukan katak. Pansula di bawah komando dan pengendalian panglima armada barat.

Melihat perkembangan dan kebutuhasn, KSAL kemudian menyurati panglima TNI yang intinya ingin membentuk detasemen jala mengkara. Permohonan itu kemudian disetujui.

Memiliki IQ Tinggi

Selain harus memiliki ketahanan fisik yang mumpuni, prajurit Denjaka adalah seorang yang cerdas atau ber IQ tinggi. Mereka dituntut untuk cepat mengambil keputusan dan tindakan dengan menyesuaikan situasi di lapangan.

Saat pendidikan, mereka diberikan teori di kelas hanya 20%, selebihnya latihan di lapangan. Itulah mengapa dari sekian banyak yang mengikuti pendidikan calon prajurit Denjaka, hanya sedikit yang lulus. Konon, setiap tahun hanya 50 orang saja yang lulus dari berbagai jenis ujian. Karena kemampuan yang dimiliki, prajurit Denjaka disebut setara dengan 12 prajurit tempur biasa.

Pendidikan yang Berat

Mengutip artikel berjudul Pasukan Elite TNI Bergerak Secepat Anginyang dilansir situs resmi TNI pada 28 November 2005, setiap prajurit Denjaka wajib mengikuti pendidikan Penanggulangan Teror Aspek Laut (PTAL) kurang lebih selama 5,5 bulan.

Dalam kursus yang digelar di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, calon anggota Denjaka diberikan materi intelijen, taktik dan teknik antiteror, dan antisabotase, dasar-dasar spesialisasi, hingga komando kelautan.

Selebihnya pendidikan dilakukan di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Calon Denjaka ditempa di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang kerap menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri.

Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun kecuali garam. Mereka dituntut memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di hutan.

Di dalam hutan, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan per orangan dalam waktu berhari-hari. Tak jarang mereka harus memakan binatang liar untuk bertahan hidup, seperti ular, monyet, dan lain sebagainya.

Dibekali Senjata Khusus

Untuk mendukung operasi yang dilakukan, prajurit Denjaka juga dibekali dengan senjata dari berbagai jenis. Antara lain submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, dan HK P30 dan SIG Sauer 9 mm.

Nah, itulah seputar fakta Denjaka pasukan elite dari TNI angkatan laut, semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan Populer